Jumat, 17 Desember 2010

Pergerakan Market Emas di Akhir Tahun

Tahun 2010 ini memberikan banyak arti terhadap kondisi market global yang selalu berfluktuatif. Bila disimak selama setahun ini emas bergerak cukup stabil dengan menunjukkan peningkatan trend yang terus meningkat ditengah kekhawatiran pemulihan krisis global.

Tabel 1
Bulan
High
Low
Pergerakan Harga
Januari
1161.90
1073.95
Turun
Febuari
1130.85
1044.30
Naik
Maret
1144.80
1085.10
Turun
April
1181.45
1111.45
Naik
Mei
1249.20
1157.50
Naik
Juni
1264.85
1196.75
Naik
Juli
1243.90
1156.80
Turun
Agustus
1249.50
1174.60
Naik
September
1315.55
1236.45
Naik
Oktober
1387.00
1305.85
Naik
Nopember
1424.15
1325.50
Naik
Desember
1430.95
1381.65
Turun

Emas di bulan Januari 2010 bergerak di range 1073 – 1161 USD/troy ons, menjelang akhir tahun 2010 tercatat di awal Desember 2010 emas mencapai level tertinggi di 1430.95 dimana trend emas mengalami kenaikan sekitar 40.000 pips dari bulan Januari. Hal ini menunjukkan perkembangan yang signifikan bahwa para pelaku pasar lebih meminati transaksi di logam mulia dibandingkan dengan mata uang US Dollar. Hal yang perlu diwaspadai adalah adanya kemungkinan koreksi akibat aksi jual para pelaku pasar di harga tinggi menjelang liburan akhir tahun. Update terakhir emas mengalami koreksi hingga di 1367.00 (17 Des 2010) sejak level tertingginya di 1430.90 pada 7 Des 2010. 

Faktornya yang menyebabkan naiknya harga emas ditahun 2010 ini adalah :
  1.  Meningkatnya minat komoditas emas sebagai  save heaven & produk anti inflasi menjadi daya tarik para investor
  2. Melambatnya  recovery ekonomi US & melemahnya mata uang USD secara berkelanjutan menjadikan emas terus terangkat di level tinggi
  3. Krisis defisit anggaran yang terjadi di negara-negara uni eropa, diantaranya Yunani, Spanyol,  Portugal hingga Irlandia yang berdampak kepada menguatnya komoditi logam mulia sebagai alternatif investasi.
  4. Cina & India sebagai konsumen terbesar emas ditahun 2010 ini mengalami peningkatan dalam hal daya beli produk ekspornya di mancanegara dengan memiliki cadangan devisa terbesar hingga 2,1 triliun USD & pertumbuhan ekonomi yang naik 8,7 % sehingga wajar jika deposit cadangan emasnya terus meningkat pesat.
Wajar jika emas melejit ditahun 2010 ini dan diprediksi masih akan berlanjut nantinya di tahun 2011 hingga mencapai kisaran di diatas 1450 – 1500 USD/troy ons, alasan utama yang mendasar adalah cadangan emas di dunia saat ini sangat terbatas karena memang merupakan produk antti inflasi dan sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui sementara permintaan dipasaran dunia yang selalu meningkat terus. 

gb. 1

Menghitung Profit/Loss Cross-Rates

Pair  cross-rates adalah transaksi mata uang asing yang tidak melibatkan USD, diantaranya adalah GBP/JPY, EUR/JPY, AUD/JPY, EUR/GBP,dan GBP/CHF  cara perhitungan profit/loss adalah sebagai berikut :

Jika Cross dgn GBP :
Profit/Loss  = (Harga Jual - Harga Beli) x 100.000 GBP x lot

Jika Cross dgn JPY dan CHF :

Profit/Loss  = (Harga Jual - Harga Beli)/Harga likuidasi x 100.000 JPY x lot
Profit/Loss  = (Harga Jual - Harga Beli)/Harga likuidasi x 100.000 CHF x lot


Contoh : 
1. EUR/GBP
Sell new 1 lot  EUR/GBP pada harga 0.8500 pada jam 10.00 WIB
pada jam 15.00 WIB
Buy likuid 1 lot standart EUR/GBP pada harga 0.8400 :

Profit/Loss = (0.8500 - 0.8400) x  100.000GBP x 1 lot
                    =  1000 GBP

Note : harga GBP/USD = 1.5500 artinya 1 GBP = 1.5500 USD

Profit/Loss  = 1000 GBP ; P/L dalam USD = 1000 x 1.5500 USD = 1550 USD
Jadi profit transaksi diatas : 1550 USD

2. EUR/JPY
Buy new 1 lot EUR/JPY di harga 111.00 pada jam 10.00 WIB
Pada jam 15.00 WIB
Sell likuid 1 lot EUR/JPY diharga 112.00 :
Profit/Loss = [(112.00 -111.00)/112.00)]EUR/JPY x 100.000 JPY   x 1 lot
                    = 892.8 EUR
Note : harga EUR/USD = 1.3200 artinya 1 EUR = 1.3200 USD
Profit/Loss  = 892.8 EUR ; P/L dalam USD =  892.8 x 1.3200 USD = 1178.5 USD
Jadi profit transaksi diatas : 1178.5 USD

Senin, 06 Desember 2010

QUANTITATIVE EASING (QE)

Sobat muda akhir-akhir ini kita pernah mendengar tentang Quantitative Easing yang dilakukan pemerintah Amerika guna menekan perlambatan ekonominya akibat krisis ekonomi yang selama ini terjadi di US. 

Quantitative Easing adalah penciptaan uang oleh bank sentral untuk memacu perkreditan dan mendorong pembelanjaan, yang akhirnya dapat menggerakan roda perekonomian. Quantitative mengacu pada kuantitas uang yang diciptakan, sedangkan easing mengacu pada mengurangi tekanan pada bank. Penerapan QE dilakukan dengan cara, dimana Bank Central memperluas distribusi uang dengan menggunakan menciptakan pinjaman baru untuk membeli aset milik Bank dan Institusi keuangan lainnya. Mendorong perekonomian dengan menggunakan uang hasil penjualan aset untuk pembelian produk barang, jasa dan lebih banyak aset lagi
QE di Inggris
Quantitative Easing pernah dilakukan oleh Bank of England (BoE) adalah dengan  ‘mencetak’ sejumlah besar ‘uang baru’ di Balance Sheet-nya. Tidak perlu repot-repot mencetak secara fisik uang kertas atau koinnya, tetapi semata-mata hanya menambahkan angka baru secara elektronik di neraca bank sentral tersebut.
Setelah terbentuk, ‘catatan’ uang ini untuk membeli asset-asset bermasalah dari dunia perbankan (seperti kredit perumahan), surat utang negara dlsb. Dengan cara ini ‘uang’ yang tadinya hanya khayalan yang hanya diketikkan di neraca bank sentral, kini telah memasuki sistem keuangan negeri itu.
Di Inggris ada komite yang disebut The Bank’s Monetary Policy Committee yang memiliki otoritas untuk mencetak ‘tambahan uang’. Saat ini komite ini memiliki ijin untuk menambah ‘uang’ di balance sheet bank sentral sampai sejumlah 150 milyar pounsterling atau US$ 207 milyar. Dari batas yang diijinkan tersebut, saat ini komite telah menggunakan separuh dari jatah yang ada.
Maka apa dampaknya bagi rakyat Inggris ?; saat ini solusi tersebut belum tentu bisa menyelamatkan mereka dari krisis (yang sudah jelas adalah sebaliknya yaitu nilai uang yang ada di masyarakat akan terus turun).

Mengapa QE dilakukan 
Dalam rangka memulihkan ekonomi dan menggairahkan perkreditan, biasanya beberapa bank sentral besar memangkas suku bunga secara agresif hingga mencapai hampir nol. 
Namun, langkah tersebut terlihat tidak manjur. Suku bunga sudah amat rendah, namun arus kredit masih terhambat dan banyak bank yang enggan untuk mengucurkan kredit.
Akhirnya mereka menemukan resep yang “kelihatannya” ampuh untuk mendorong perkreditan, pembelanjaan dan pertumbuhan, yaitu Quantitative Easing.
Dengan kata lain, bank sentral menciptakan uang dan menggunakan uang tersebut untuk membeli surat utang, seperti obligasi pemerintah, dari institusi keuangan, di pasar terbuka. Institusi keuangan itu lalu dapat menggunakan uang itu untuk mengucurkan kredit atau membeli aset lain. Namun, kini uang baru itu cenderung diciptakan secara elektronik dari pada dicetak secara fisik.
Tujuan Quantitative Easing adalah menambah jumlah uang beredar dengan pertambahan kredit yang akhirnya dapat merangsang arus uang di ekonomi seiring meningkatnya pembelanjaan. Quantitative Easing adalah solusi ketika cara normal menambah pasokan uang dengan memangkas suku bunga tidak ampuh lagi, biasanya ketika suku bunga hampir nol dan mustahil untuk memangkasnya lagi.
Meski pernah ada yang menerapkannya, faktor historis tidak bisa memberi jaminan cara ini akan efektif. Hanya ada satu kasus sukses, yaitu Jepang antara 2001 dan 2006. Namun, para ahli tidak bisa sepakat apakah taktik ini jitu buat US atau Inggris. Di satu sisi, karena PDB Jepang tidak merosot. Sedangkan di Inggris & US, pertumbuhan PDB kecil dan tidak konsisten.

Meski Quantitative Easing belum tentu efektif, patut dicoba bila tidak membahayakan. Namun, keamanannya jauh dari pasti. Sekali lagi, sejarah tidak bisa menjadi patokan keberhasilan. Jepang tidak mendapat efek samping, inflasinya rendah dan yen-nya kuat. Tapi pencetakan uang yang terlalu banyak terbukti membawa bencana, seperti yang terjadi di Zimbabwe saat ini.

Meski QE diharapkan mampu menggairahkan ekonomi AS dan Inggris, namun Quantitative Easing tetap berisiko. Terlalu banyak uang beredar, bila tidak segera ditanggulangi, bisa menyebabkan hiperinflasi. Selain itu, belum dapat dipastikan apakah banjirnya kredit akan membantu ekonomi yang luluh lantah karena dampak merajalelanya kredit yang serampangan. Tapi bila sudah dijalankan, yang terpenting bagi bank sentral dan Departemen Keuangan adalah berkomitmen dan bekerjasama untuk membalikan kebijakan ketika keadaan membaik.

Teknik-teknik canggih dalam mengatasi krisis semacam ini, sangat mungkin dilakukan oleh negara-negara lain juga; mungkinkah juga di negara kita ?. Oleh karenanya rakyat atau melalui wakil-wakilnya hendaknya memiliki akses terhadap para pengambil kebijakan-kebijakan publik sehingga ada yang memahami dan mengawasi mereka.
Kalau kita tidak yakin tentang pengawasan ini, rakyat tetap bisa berbuat mengamankan hasil jerih payahnya yaitu dengan mempertahankan asset fisik atau uang dengan nilai intrinsik yang bisa berupa emas, perak, kebun, ternak dlsb. Semoga bermanfaat.